Skip to content

APN

Just another Landfoster site

Menu
  • Home
  • Indonesian
  • English
Menu

Tajrid dan Kasab: Dua Pilar Perjalanan Spiritual Menuju Allah

Posted on July 17, 2026July 17, 2026 by admin

Koderi, Guru Besar dari UIN Raden Intan Lampung, menegaskan bahwa perjalanan seorang mukmin menuju Allah tidak cukup hanya dengan semangat ibadah semata. Lebih dari itu, perjalanan spiritual ini memerlukan pemahaman yang benar dan mendalam terhadap kehendak Allah SWT, khususnya melalui dua konsep fundamental dalam tasawuf Islam: tajrid dan kasab.

Memahami Konsep Tajrid dalam Kehidupan Spiritual

Tajrid merupakan salah satu konsep penting dalam tradisi spiritual Islam yang merujuk pada sikap tawakal dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Dalam konteks ini, tajrid berarti melepaskan ketergantungan hati terhadap sebab-sebab lahiriah dan sepenuhnya bergantung kepada Allah sebagai pencipta segala sebab. Konsep ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah, sehingga h tidak terikat pada dunia dan segala isinya.

Namun, tajrid bukanlah sikap pasif yang mengabaikan usaha. Justru, tajrid yang benar adalah ketika seorang hamba tetap berusaha dengan sungguh-sungguh, namun hnya tidak bergantung pada hasil usaha tersebut, melainkan sepenuhnya bergantung kepada Allah. Ini adalah tingkat keimanan yang tinggi, di mana seseorang mampu memisahkan antara ikhtiar lahiah denganergantungan batiniah. Para ulama tasawuf menyebutnya sebagai “berusaha dengan tanganun bertawakal dengan hati”.

Kasab: Prinsip Usaha dan Ikhtiar dalam Islam

Di sisi lain, kasab merupakan konsep yang menekankan pentingnya usaha, ikhtiar, dan upaya nyata dalam menjalani kehidupan. mengajarkan bahwa manusia diperintahkan untuk bekerja, berusaha, dan mengambil sebab-sebab yang telah Allah ciptakan di alam semesta ini. Kasab mencakup segala bentuk aktivitas produktif yang halal, mulai dari bekerja mencari nafkah, menuntut ilmu, hingga berbagai bentuk amal saleh lainnya.

Prinsip kasab ini sejalan dengan banyak ayat Al-Quran dan had Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk tidak bermalas-malasan dan selalu mengil inisiatif dalam kebaikan. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda bahwa tangan di atas (yang memb) lebih baik daripada tangan di bawah (yang meminta), yangunjukkan pentingnya kemandirian melalui usaha yang halal. Kasab juga mencminkan sikap optimis dan proaktif dalam menghadapi kehidupan, bukan sikap fatalis yang menyerahkan segalanya tanpa usaha.

Keseimbangan Tajrid dan Kasab dalam Praktik Kehidupan

Menurut Koderi, kedua konsep ini harus dipahami secara seimbang dan tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Tajrid tanpa kasab akan menghasilkan sikap pasif dan fatalistik yang keliru, seolah-olah manusia tidak perlu berusaha karena semua sudah ditakdirkan. Sebaliknya, kasab tanpa tajrid akan melahirkan materialisme dan ketantungan berlebihan pada usaha manusiawi, hingga melupakan peran Allah sebagai pemberi rezeki dan pengatur segala urusan.

Keseimbangan antara tajrid dan kasab inilah yang menjadi ciri khas ajaran Islam yang moderat dan komprehensif. Seorang muslimati adalaheka yang bekerja kerasah-olah kesuksesan bergantung pada usahanya, namun di saat yang sama, ia bertawakal kepada Allah seah-olah tidak ada usahanya yang berarti tanpa kehendak-Nya. Inilah yang dimaksud dengan “ittak ala Allah ma’alhdzi bil asbab” – bertawakal kepada Allah sambil mengambil sebab-sebab.

Relevansi di Era Modern

Di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks, pemahaman terhadap tajrid dan kasab menjadi semakin penting. Banyak umat Islam yang mengalami kebingungan antara berusaha keras kompetisi dunia modern dengan menjaga spiritualitas dan ketergantungan kepada Allah. Kedua konsep ini memberikan panduan yang jelas:rusahalah semaksimal mungkin dengan mefaatkan segala potensi dan kesempatan yang ada, namun jangan biarkan hati terikat pada hasil dan jangan lupakan bahwa Allah adalah penentu segala urusan. Dengan memahami danmalkan prinsip tajrid dan kasab secimbang, seorang mukmin dapat menjalani kehidupan dunia dengan produktif sambil tetap menjaga orientasi spiritualnyauju Allah SWT.

Source: Republika

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Warung Makan di Cengkareng Cemas Hadapi Ancaman Gangguan Air PAM
  • Palestina Daftarkan 12 Situs Bersejarah ke UNESCO
  • Meninjau Makna Kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah
  • Purbaya Ungkap Alasan Anggaran Pendidikan Belum Capai 20 Persen
  • Tajrid dan Kasab: Dua Pilar Perjalanan Spiritual Menuju Allah

Categories

  • Antara
  • CNN Indonesia
  • English
  • Indonesian
  • Republika
  • Tempo
©2026 APN | Design: Newspaperly WordPress Theme